Jejak Maharani ibarat pohon yang tumbuh dari niat paling sederhana yaitu memberi manfaat. Akar pengabdiannya meneguhkan tanah tempat para petani berpijak, batang ketulusannya mengokohkan mereka untuk bertahan, sementara ranting-ranting usahanya merentang membuka peluang baru. Daun yang ia tumbuhkan menjadi teduh bagi banyak keluarga, bunganya menumbuhkan harapan, dan buahnya melahirkan keberlanjutan. Melalui LRC inisiasinya, langkahnya menjadi ikhtiar panjang yang memastikan kebaikan tidak sekadar hadir, tetapi terus tumbuh, mengakar, dan diwariskan.

Pelatihan petani perempuan di Desa Kertasari | Source: Lumbunginovasi.id
Pagi itu suasana Desa Kertasari terasa hangat. Di sebuah halaman rumah sederhana, tampak sebanyak 25 petani perempuan berkumpul sambil memegang botol-botol kecil berisi biostimulan. Wajah mereka memancarkan antusiasme, seperti sedang menyambut sesuatu yang baru dalam rutinitas bertani yang telah mereka jalani bertahun-tahun. Tak jauh dari mereka berdiri seorang narasumber dari Lombok Research Center, yang pagi itu akan memulai sesi pelatihan singkat.
Di desa yang dikenal dengan komoditas unggulan petani di Lombok Timur ini, suasana tampak lebih hidup dari biasanya. Melalui program yang bernama BISA ini adalah upaya untuk mendorong pertanian berkelanjutan. Sekitar 100 petani di Desa Kertasari ditargetkan akan menguji penggunaan biostimulan, sebuah langkah kecil untuk mencoba cara bertani yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Program ini adalah bagian dari komitmen dan upaya Lombok Research Center (LRC) Foundation untuk memperkenalkan praktik pertanian yang mudah diterapkan.
Adalah Maharani seorang doktor pertanian yang menginisiasi lahirnya Lombok Research Center (LRC). Merupakan lembaga independen yang dirintisnya sejak tahun 2009 namun kiprahnya dalam meninggikan martabat petani terus menyala hingga saat ini. Dari satu desa ke desa lainnya, ia membawa gagasan, pelatihan, dan pendampingan yang membuka mata para petani tentang cara bertani yang lebih berkelanjutan.
Berawal dari keprihatinannya melihat kondisi alam Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kering dan tandus, Maharani seorang pemuda asal Lombok Timur mulai memikirkan bagaimana caranya menghidupkan kembali tanah yang selama ini dianggap tidak menjanjikan. Ketertarikannya pada isu lingkungan ini semakin kuat ketika ia mendalami berbagai penelitian selama menempuh pendidikan di bidang pertanian.
Melalui penelitiannya tentang budidaya gaharu, ia tertantang untuk mengajak masyarakat beramai-ramai menanam pohon gaharu di pekarangan rumah. Alasannya sederhana, bahwa pohon Gaharu memiliki potensi ekonomi yang sangat besar sekaligus bisa menghijaukan lahan-lahan kritis yang selama ini dibiarkan terbengkalai.
Sebagai seorang yang bergelar doktor pertanian, hal itu semakin meyakinkan bahwa pertanian tidak hanya soal menanam, tetapi juga tentang memulihkan ekosistem dan menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Potret Budidaya Pohon Gaharu | Source: Maharani
Pohon gaharu dikenal karena gubal atau lapisan hitamnya yang bernilai tinggi, dapat dijual dengan harga mencapai Rp 5 hingga 40 juta per kilogram. Nilai ekonominya yang luar biasa itulah yang membuat Maharani yakin bahwa gaharu bisa menjadi tanaman harapan bagi petani Lombok Timur. Tanaman yang bukan hanya menghidupkan tanah, tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi keluarga petani.
Kesadaran inilah yang akhirnya mendorongnya mengambil keputusan besar di tengah kariernya sebagai dosen. Dengan tekad yang matang, Maharani memilih kembali ke tanah kelahirannya dan terjun langsung ke dunia pertanian. Ia ingin membuktikan bahwa ilmu yang ia miliki bukan sekadar teori, melainkan alat untuk menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat dan lingkungan tempat ia tumbuh.
Tahun 2009 menjadi titik balik bagi perjalanan gaharu di Lombok Timur. Saat itu Maharani mengumpulkan sekitar 50 pemilik pohon gaharu. Ia datang bukan hanya sebagai peneliti, tetapi sebagai seseorang yang melihat peluang ekonomi yang selama ini terabaikan. Gagasannya yaitu membentuk Forum Petani Pecinta Gaharu (FP-Gaharu) sebagai ruang belajar bersama bagi para petani NTB. Siapa sangka, forum yang awalnya beranggotakan puluhan orang itu kini tumbuh beranggotakan lebih dari 200 petani.
Melalui forum tersebut, para petani tidak hanya berbagi pengalaman dalam menanam gaharu, tetapi juga sebagai wadah literasi pertanian yang membahas hal-hal teknis seperti teknik inokulasi, perawatan pohon, hingga strategi pemasaran gubal gaharu (resin gaharu) secara kolektif. Pendekatan ini perlahan mengubah pola kerja yang semula individual menjadi lebih terstruktur dan berbasis data lapangan.

Penanaman Gaharu | Source: Maharani
Forum ini menjadi ruang transformasi pola pikir. Banyak petani awalnya skeptis terhadap potensi ekonomi gaharu karena masih terpengaruh anggapan mistis tentang, mereka meyakini bahwa resin gaharu muncul karena pohon mengalami “kesakitan gaib”. Mendengar hal itu Maharani dengan sabar menjelaskan proses ilmiahnya dan menunjukkan contoh gubal yang telah terbentuk untuk meyakinkan mereka.
Semua langkah ini menandai perubahan besar, dari pertanian tradisional yang mengandalkan keberuntungan, menjadi budidaya modern yang berdiri di atas ilmu, kolaborasi, dan visi jangka panjang.
Pohon gaharu selama ini dikenal sebagai tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan Nusa Tenggara Barat. Namun, tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa tanaman bernama latin Gyrinops versteegii ini sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang luar biasa tinggi.
Gaharu tua biasanya mulai menghasilkan gubal atau lapisan resin beraroma khas yang terbentuk secara alami akibat infeksi mikroba Fusarium sp.. Gubal inilah yang menjadi bahan baku utama industri parfum, dupa berkualitas tinggi, hingga berbagai produk aromaterapi kelas dunia.
Permintaannya besar, namun ketersediaannya sangat terbatas karena proses pembentukannya membutuhkan waktu panjang dan kondisi lingkungan yang spesifik. Keterbatasan pasokan inilah yang membuat gubal gaharu dihargai sangat tinggi di pasar internasional.
Di balik misi sosial-ekologisnya, Maharani membawa pendekatan ilmiah yang sangat konkret. Ia mengembangkan teknik inokulasi menggunakan cairan jamur hasil budidaya mikroorganisme dari akar gaharu, yang disuntikkan ke batang pohon. Menurut pengujian, jika berhasil, dalam setahun bisa terbentuk gubal.
Lebih menarik lagi, Petani gaharu juga makin kreatif. Mereka turut mengembangkan plat baja di dalam batang gaharu. Teknik memasang logam di dalam batang sebagai pemicu respon pohon secara empiris terbukti meningkatkan tingkat keberhasilan pembentukan gubal menjadi jauh lebih tinggi dibanding metode suntik biasa. Dalam data lapangan, keberhasilan metode plat baja dilaporkan hingga 93%, dibanding hanya 50% pada teknik suntik konvensional.
“Kalau teknik suntik hasilnya hanya setengah, kalau teknik yang dikembangkan petani ini bisa 93% tingkat keberhasilannya,’’ Ujar Maharani.
Ia juga tak lupa aspek konservasi, menyuntikannya dilakukan dengan hati-hati dan terencana, sehingga tidak semua pohon “dilukai” sekaligus. Strategi ini menjamin regenerasi, menjaga pohon, dan memastikan kesinambungan produksi.
Dari sisi ekonomi, nilai gaharu memang luar biasa. Harganya stabil, pembelinya tidak pernah surut, bahkan kerap kali para pengusaha tidak mampu memenuhi permintaan. Negara-negara Timur Tengah, Eropa, hingga Tiongkok terus membutuhkan gaharu. Baik gaharu alam maupun hasil budidaya memiliki harga yang relatif sama, perbedaannya hanya terletak pada kualitas.
Maharani pernah menunjukkan gubal gaharu yang harganya dapat mencapai Rp5–10 juta per kilogram untuk kualitas standar, agar para petani benar-benar memahami nilai dari pohon yang mereka rawat.
Lebih dari itu, hampir setiap bagian pohon gaharu memiliki manfaat ekonomi. Mulai dari daunnya bisa dibuat teh, ekstraknya dapat diolah menjadi minyak gaharu, sementara batangnya dapat dimanfaatkan untuk kerajinan seperti tasbih, dupa, hingga bahan kosmetik dan sabun. Maharani selalu menegaskan bahwa tidak boleh ada bagian pohon yang terbuang.

Petani menanam gaharu dan pohon lainnya | Source: Maharani.
“Misi kami sekaligus menghijaukan lahan-lahan kritis,” ujarnya.
Melihat potensi besar itu, Maharani dan timnya menjalankan misi yang bukan hanya soal bisnis, tetapi juga pemulihan lingkungan. Upaya ini diwujudkan melalui penanaman gaharu secara masif di berbagai wilayah NTB. Hingga kini, mereka telah menanam di Lombok Utara seluas 350 hektar, Lombok Barat 200 hektar, Lombok Tengah 100 hektar, dan Pulau Sumbawa sekitar 500 hektar.
Bukan hanya soal penanaman gaharu. Maharani mendidik petani agar tidak hanya bergantung pada satu jenis pohon. Ia mengajarkan diversifikasi dengan menanam buah-buahan seperti durian, nangka, alpukat di antara pohon gaharu, agar lahan lebih produktif dan manfaatnya lebih luas.
Maharani memahami bahwa pendekatan kepada petani tidak bisa hanya mengandalkan ajakan penghijauan. “Kalau hanya bicara soal menghijaukan lahan, mereka mungkin kurang tertarik. Tapi ketika dijelaskan manfaat ekonominya, para petani justru tergerak untuk menanam sendiri,” ujarnya. Karena itu, ia selalu menekankan bahwa budidaya gaharu bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga kesempatan meningkatkan pendapatan.
Untuk mendukung minat tersebut, Maharani menyediakan bibit gaharu di kebun milik keluarganya. Petani yang ingin mencoba menanam bisa meminta bibit secara gratis, sementara permintaan dalam jumlah besar biasanya disediakan melalui penjualan. Dukungan ini membuat petani tidak perlu memulai dari titik nol.
Berawal dari pendampingan itulah, misinya untuk menghijaukan kembali lahan-lahan kritis mulai menunjukkan hasil yang nyata dan meluas dari satu desa ke desa lainnya.

Maharani menunjuk pohon gaharu yang rimbun | Source: Maharani.
Maharani juga menunjukkan sejumlah foto lahan yang kini tampak rimbun oleh pohon gaharu. Dulu, tempat itu hanyalah lahan kritis yang dipenuhi semak belukar, tanpa nilai ekonomi sedikit pun. Kini, lahan-lahan tersebut berubah menjadi kawasan hijau yang subur, dan para petani sudah bersiap memanen pohon-pohon gaharu yang mereka rawat selama bertahun-tahun.
Bukti nyata ini menjadi alasan kuat mengapa semakin banyak petani yakin bahwa gaharu bukan sekadar tanaman penghijauan, tetapi sumber penghidupan jangka panjang.
Bukan hanya soal penanaman gaharu. Maharani mendidik petani agar tidak hanya bergantung pada satu jenis pohon. Ia mengajarkan diversifikasi dengan menanam buah-buahan seperti durian, nangka, alpukat di antara pohon gaharu, agar lahan lebih produktif dan manfaatnya lebih luas.
Perjalanan panjang budidaya gaharu, mulai memberikan perubahan nyata. Tak hanya tanah tandus yang mulai menghijau, gupal pun telah membuahkan hasil. Lebih dari sekadar komoditas, gaharu telah berkembang menjadi sumber penghidupan baru yang membuka peluang usaha di berbagai lini. Ekstrak gaharu misalnya, minyak pekatnya menjadi komoditas utama karena harganya tinggi dan banyak dicari industri parfum. Sementara itu, batangnya diolah menjadi kerajinan, dan bagian kayu yang unik bisa dijadikan dekorasi rumah.

Dari ekstrak gaharu hingga hasil kebun | Source: LRC Foundation, dll
Tanaman buah-buahan yang ditanam di sekitar pohon gaharu tanaman buah-buahan yang ditanam di sekitar pohon gaharu pun ikut memberikan hasil. Selain menambah keragaman panen, keberadaannya membantu para petani memperoleh pendapatan lain. Dari minyak gaharu, kerajinan kayu, hingga hasil kebun, semuanya saling melengkapi dan memperkuat kesejahteraan masyarakat setempat.
Usaha Maharani juga tak luput dari pengakuan. Atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam menggerakkan para petani serta memulihkan lahan-lahan kritis melalui budidaya gaharu, Ia memetik hasil perjuangan dengan menerima apresiasi besar dari PT Astra International Tbk. Melalui kontribusinya bersama Forum Petani Pecinta Gaharu, ia terpilih sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2014 untuk kategori lingkungan.

Maharani Terpilih menjadi Penerima SATU Indonesia Awards 2014 | Source: Satu Indonesia
Penghargaan bergengsi ini menjadi bukti bahwa upaya yang ia rintis mulai dari pendampingan petani hingga menciptakan model pemulihan lahan yang berdampak ekonomi, benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Gebrakan yang ia lakukan bukan hanya mengubah bentang alam, tetapi juga membuka peluang penghidupan baru bagi banyak keluarga.
Melalui pembinaan ASTRA, Maharani semakin memperkuat kapasitas organisasinya, memperluas jaringan kemitraan, dan mendapatkan akses pelatihan yang membuat programnya lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dukungan ini membantu Forum Petani Pecinta Gaharu berkembang lebih cepat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak desa.
Ibarat gaharu yang setiap bagiannya memiliki manfaat, Maharani berharap juga bisa terus memberi arti bagi lingkungan dan masyarakat. Ia ingin jejak yang ia tinggalkan bukan hanya berupa pohon-pohon yang tumbuh di lahan kritis, tetapi juga pengetahuan, kepercayaan diri, dan peluang yang tumbuh untuk para petani.
Agar apa yang ia mulai tidak berlalu begitu saja, ia sempurnakan dengan menginisiasi Lombok Research Center (LRC Foundation). Sebuah lembaga yang menjadi ruang belajar bersama bagi para petani, tempat riset sederhana dilakukan, teknik inokulasi diperkenalkan, budidaya diuji, dan data dicatat secara sistematis.

Lombok Research Center Foundation | Source: LRC Foundation, dll
LRC hadir sebagai wadah untuk menjawab hambatan dan permasalahan di lapangan, mulai dari keterbatasan pengetahuan teknis, akses pasar yang terbatas, hingga kebutuhan akan pendampingan berkelanjutan bagi para petani. Selain itu, lembaga ini hadir untuk menghadapi regulasi agar bisa menjangkau pasar ekspor, persyaratan mutu, regulasi konservasi, serta bisa tumbuh berkolaborasi dengan berbagai lembaga seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor penting lainnya.
Bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Maharani adalah menarik minat generasi muda. Banyak pemuda di Lombok dan NTB yang awalnya enggan terjun ke dunia pertanian karena menganggapnya sebagai pekerjaan yang “ketinggalan zaman” dan tidak menjanjikan. Namun, pandangan itu perlahan berubah ketika mereka melihat peluang besar dari budidaya modern pohon gaharu. Alhasil, Kelompok Tani Muda telah berhasil diresmikan, sebagai wadah regenerasi petani masa depan.

Kiprah LRC bagi Masyarakat | Source: LRC Foundation
Yayasan yang berdiri sejak tahun 2009 itu tidak hanya berfokus pada bidang pertanian. Kiprahnya merambah berbagai sektor strategis, mulai dari peningkatan nilai tambah produk unggulan Lombok Timur, program Kampung SEHAT, pengembangan usaha ekonomi produktif, pemberdayaan kelompok rentan dan marginal, hingga program inklusi sosial.
Di bidang pariwisata, LRC juga mendorong pengelolaan destinasi secara partisipatif melalui model pariwisata berbasis masyarakat. Beragam inisiatif tersebut dirancang untuk memperkuat pondasi ekonomi lokal, meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan lintas sektor inilah, LRC Foundation terus bertumbuh menjadi motor perubahan yang mempertemukan inovasi, pemberdayaan, dan keberlanjutan.
Jejak Maharani di NTB bukan sekadar catatan aktivitas budidaya melainkan narasi kompleks tentang keberanian, ilmu, serta transformasi sosial-ekologis. Jejaknya ibarat pohon, menguatkan akar layaknya menguatkan niatnya, mengokohkan komunitas layaknya membangun batang yang kuat. Menebar peluang baru dan harapan, ibarat ranting yang terus bercabang. Hingga menghidupkan ekonomi hijau layaknya daun. Tidak sampai disitu, ia juga menumbuhkan harapan dengan bukti nyata seperti bunga. Hasil Perjuangan yang siap dipetik layaknya buah, serta tumbuhnya LRC Foundation layaknya bibit baru yang siap ditanam untuk melahirkan pohon-pohon lainnya.
Dari seorang doktor yang meninggalkan karier PNS hingga menjadi petani gaharu, dari lahan tandus menjadi kebun produktif, dari komunitas menjadi LRC foundation yang menjadi tombak untuk mengukir jejak agar terus berdampak. Cerita suksesnya bisa menjadi blueprint bagi daerah lain yang memiliki lahan kritis di Indonesia, bagaimana menanam gaharu sebagai solusi multifungsi untuk ekonomi, lingkungan dan sosial. Dibalik hasil dari kerja kerasnya juga tak luput dari peran ASTRA yang telah banyak berkontribusi untuk memberikan support baik moral maupun material. Dari pohon gaharu tumbuhkan gairah baru untuk #SatukanGerakTerusBerdampak membangun Indonesia yang lebih maju.
“Yang menjadi tujuan utama saya adalah bagaimana kesejahteraan masyarakat di NTB, pada khususnya dan masyarakat petani di Indonesia pada umumnya” – Maharani
Referensi:
Booklet 15th Satu Indonesia Award 2024, Bersama, berkarya, Berkelanjutan
Lombok Research Center tersedia di: https://www.lrcfoundation.com/
Suhartati (2013), BUDIDAYA TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis Lamrk.) https://media.neliti.com/
Rahasia Keunikan Gaharu tersedia di: https://www.researchgate.net/publication/260640059_Rahsia_dan_Keunikan_Gaharu
https://lumbunginovasi.id/daerah/lrc-perkuat-pemberdayaan-kelompok-petani-perempuan-di-desa-kertasari/
https://mongabay.co.id/2020/01/07/petani-muda-lombok-ini-pulihkan-lahan-dengan-gaharu-dan-buah-buahan/
https://www.tempo.co/info-tempo/harapan-baru-lewat-budidaya-kayu-gaharu-905255
https://kanaldesa.com/artikel/desa-danger-hidup-dari-gaharu
https://cianjur.viva.co.id/news/4825-maharani-pria-asal-ntb-yang-bahagiakan-petani-dengan-budidaya-pohon-gaharu