Keterbatasan, Takkan Pernah Patahkan Pensil Lukis

Goresan pensil dengan tegas menoreh jejak di selembar kertas. Membentuk pola, mengarsirnya, sesekali dia menghapusnya. Tatapan matanya yang tajam seolah-olah tidak terlepas dari coretan pensilnya yang sedang asyik bergoyang. Berkali-kali iya cocokkan kembali dengan gambar asli dari smartphone yang ia pegang. Senyumnya yang tipis terkadang mengartikan kebanggaan tersendiri dari hasil karya yang ia buat. 

Bagi sebagian orang, keterbatasan adalah hambatan untuk berkarya menggapai mimipi, namun tidak dengan sesosok pemuda paruh baya ini. Priyo Siswoyo atau biasa disapa Mas Priyo adalah pemuda difabel yang berusaha keras mewujudkan mimipinya dengan sebatang pensil. Keterbatasan fisik yang ia alami mampu melawan rasa keputusasaan hidup dengan kreativitas dan motivasi. Dari hobinya yang suka menggambar sejak sekolah dulu,  ia wujudkan dengan menjadi seniman lukis.

Semua berawal dari kejadian pahit yang menimpa dirinya pada usia 24 tahun. Pria yang berasal dari Wonogiri ini, harus rela kehilangan separuh fungsi organ tubuhnya akibat kecelakaan kerja.  Kejadian yang terjadi pada tahun 2000 itu membuat ia harus dirawat di tiga rumah sakit yang berbeda. Hingga pada akhirnya ia ditetapkan menderita paraplegia yaitu hilangnya kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh bagian bawah.

Setelah kembalinya ke kampung halaman, ia merasa dirinya terisolasi dengan keadaan karena tidak ada teman yang senasib dengan dirinya. Hal ini juga membuat pria yang memiliki hobi bermain bulu tangkis ini sempat jatuh harapan dan putus asa. Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan yayasan para penyandang disabilitas Rehabilitasi Centrum (RC) Prof. Dr. Soeharso, Solo. Selama setahun lamanya ia berusaha untuk belajar dan mendalami berbagai keahlian seperti kerajinan tangan, olahraga dan lain sebagainya.

Berbekal keterampilan yang telah diajarkan, ia kembali lagi pulang ke rumah. Namun kondisi lingkungan tidak membuatnya semakin membaik. Ia kembali pergi untuk hijrah ke Jakarta dan tinggal di sebuah Yayasan Budi Bakti Bina Daksa yang berlokasi di jl. Pondok bambu, Jakarta. Disana ia merasa nyaman karena memiliki banyak teman yang senasib dengannya. Tidak hanya itu berbagai fasilitas yang tersedia juga sangat mendukung untuk mengasah eksistensinya. “Lebih nyaman disini mas” begitulah tuturnya sambil menyeruput kopi hitam bersama saya di sekitaran asramanya. 

Pensil Lukis Jadi Teman Baiknya

Setiap pagi disaat kita masih terlelap dalam tidur, ia bangun dan mempergunakan waktunya untuk melukis dengan pensil ajaibnya. Sebatang pensil yang mampu menyulap kertas kosong menjadi sebuah lukisan yang sangat indah dan mempesona. “Biasa mas tiap pagi saya ngelukis dulu sebelum beraktifitas, abis orderan lumayan banyak sih” begitulah ujarnya.

Wow! saya semakin kagum dengan sesosok inspirator seperti mas priyo, membuat mata hati saya semakin terbuka dan mulai dalam hati mengintropeksi diri. Saya yang memiliki fisik lengkap dan sempurna terkadang masih suka mengeluh dengan keadaan, masih suka bermalas-malasan, dan tak peduli dengan lingkungan sekitar, sementara mas priyo yang dengan keterbatasan masih saja sempat-sempatnya memberikan secercah senyuman dengan karya yang ia berikan.

Karyanya ternyata tidak semata-mata merupakan pelarian kesedihan, tetapi lebih memberikan arti kebahagiaan bagi setiap orang yang pernah menggunakan jasanya. Sebuah karya yang tidak hanya indah di pandang tapi juga mengalir derasnya semangat dan motivasi hidup dari seorang yang memiliki keterbatasan fisik. Namun baginya keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus berkarya.

Kini karya lukisnya terus membuat dirinya semakin positif dan energik dalam menghadapi kenyataan hidup. Raut wajahnya tak pernah menunjukan kegelisahan dan kesedihan, yang ada hanyalah senyuman penuh kebahagiaan. Baginya ini semua adalah sebuah anugrah yang Sang Pencipta telah berikan. Rasa syukur terus ia panjatkan seiring waktu dengan menjalankan segala ketetapan yang Allah hadirkan. Kini pensil lukis menjadi teman baiknya di setiap waktu dan di setiap hari.

Dari Pensil Lukis Wujudkan Mimpinya

Pertemuan pertama kali dengan seseorang yang hanya saya kenal lewat watermark karyanya ternyata menyisakan semangat yang menggebu-gebu bagi diri saya. Tak sedikit pun rasa menyesal singgah di hati, ketika hujan mulai menghalangi perjalanan saya. Terbiasa dengan cerita orang yang membosankan, namun kali ini tidak dengan wejangan mas priyo. Semua seakan anugrah bagi saya bisa bertemu dengan sesosok panutan yang memiliki semangat yang begitu besar.

“Mari mas ke kamar saya, nanti saya tunjukkan beberapa karya dan sedikit penghargaan saya.” begitulah santun tutur katanya sambil menuntun saya menuju kamar tempat tidurnya. Dibawalah saya ke dalam sebuah ruangan yang terdiri dari lima tempat tidur dengan lemari kayu yang menjadi tempat pakaian sekaligus sekat tempat tidurnya. Suasana ruangan benar-benar seperti di asrama, saling berbagi tempat, teringat dulu masa-masa di karantina.

Dari jauh saya melihat lukisan yang saya tahu itu adalah lukisan mas priyo, sedikit menebak kalau itu adalah kamarnya dan ternyata benar. Ditunjukkannya meja lukis yang baru ia modifikasi dengan tambahan besi segitiga agar lebih nyaman dalam melukis, beberapa hasil karyanya dari yang setengah jadi hingga yang telah menjadi satu kesatuan diperlihatkannya satu persatu. Sesekali saya numpang narsis bersama hasil karyanya yang menakjubkan seperti sungguhan.

Tidak hanya itu saja yang membuat saya merasa bangga bisa mengenal Mas Priyo. Jari telunjuknya mengarah kesebuah benda yang mengisyaratkan kalau saya harus melihat benda yang satu itu. Ya, itu adalah beberapa deretan penghargaan yang diberikan kepada Mas Priyo. Dalam hati saya hanya bisa bergumam “hebat luar biasa”, memang keterbatasan fisik memanglah bukan suatu hambatan untuk Mas Priyo mencetak prestasi. Disisi lain yang saya kenal sebagai pelukis ternyata banyak hal yang ia bisa lakukan. Bahkan tak jarang ia menorehkan prestasinya dari berbagai kejuaraan tingkat nasional.

Prestasi terakhirnya mungkin bisa dibilang yang paling membanggakan, karena Mas Priyo menjadi salah satu bagian dari olahragawan yang berlaga pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun lalu. Dan lagi-lagi ia mampu menyabet medali perunggu pada atlit cabang bowling. Tentu tidak hanya melukis yang bisa dilakukan dalam keterbatasan, tetapi banyak hal yang telah dibuktikannya. Sungguh prestasi yang luar biasa dan mampu menginspirasi banyak orang.

Dibalik Pensil Lukis Tersimpan Inspirasi

Kesuksesan yang telah hadir di depan mata tentu bukan semata-mata tanpa dukungan dan dorongan untuk berubah menjadi lebih baik. Sesosok Mas Priyo tentu memiliki keluarga dan para sahabatnya yang selalu mendukungnya di setiap waktu. Lingkungan yang mendukung segala bentuk aktivitasnya juga merupakan salah satu terbentuknya bakat yang ia tuai selama ini.

Dengan semangat yang terus membara didukung dengan pengarahan dari Yayasan Bina Bakti yang telah menjadi bagian dari binaan Astra juga merupakan salah satu bentuk dukungan positif terhadap para difabel. Jiwa seni yang terbentuk juga merupakan penyuluhan dari binaan Astra Disability Connection Program (ADCP) yang selama ini telah menuntunya dalam berbagai pelatihan melukis. Tentu hal ini menjadi pintu terbukanya bakat penerusnya dalam berkarya pada bidang seni lukis yang selama ini menjadi kelebihannya.

“Saya bisa melukis juga karena bimbingan dari binaan Astra yang selama ini memberikan berbagai pelatihan melukis seperti ini” begitulah ujarnya. Menjadi hal yang bermanfaat saat dirinya termasuk salah satu difabel yang mengikuti ADCP, dia diberikan pelatihan basic mentality, sertifikasi, pembinaan seni, bantuan sarana usaha serta pemasaran hasil produk.

Bahkan Mas Priyo mengaku ingin sekali menemui pak Presiden dan menyerahkan karya lukis berwajah Pak Jokowi bersama istrinya jika ada kesempatan. Sejak lama menantikan hal ini hingga akhirnya melalui kegiatan Pameran Kerajinan Nusantara Kriyanusa 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, akhirnya Mas Priyo di pertemukan dengan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo.

Wajahnya terlihat sumringah karena bukan hanya bisa bertatap muka langsung, dirinya gembira karena dapat menyerahkan hasil karyanya langsung kepada sang Presiden. Mimpi pun menjadi kenyataan, Mas Priyo yang telah mengikuti program ADCP selama tiga tahun semakin mahir melukis, lukisannya pun semakin nyata dan memiliki nilai jual cukup tinggi. Tidak heran, jika sketsa wajah Pak Jokowi sangat mirip dengan aslinya.

Dengan ini tentunya Astra akan lebih fokus lagi pada pembinaan UKM termasuk dalam pilar Astra Untuk Indonesia Kreatif, CSR Astra. Sejak digagas tahun 1980, Astra telah membina lebih dari 10.000 UMKM dengan jumlah masyarakat penerima program sebanyak 97.641, juga kegiatan ADCP yang telah membina empat panti dan 267 penerima program di DKI Jakarta,

Sehingga, sejalan dengan visi Astra, yang diharapkannya dapat meningkatkan kualitas dan mampu menjadi media pembelajaran bagi pelaku industri kerajinan, baik dari bidang kreativitas, teknologi dan manajemen, khususnya bagi Indonesia.

Harapanya semua bisa terinspirasi dengan adanya cerita pengalaman dari perjalanan inspirasi seperti Mas Priyo ini. Dan semoga Astra selalu menjadi panutan dalam membangun Negeri.

Always Pray and Tetap Semangat!….

Let’s Share to Your Friend !