Ragam Kulit Ceker Ayam Dibalik Sepatu Nurman

“Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan, tak satupun sia-sia. Apa yang ada di langit dan di bumi, semua memiliki manfaat. Tak terkecuali sesuatu yang telah menjadi sampah atau limbah sekalipun. Di tangan pemuda bernama Nurman, limbah ceker ayam pun bisa menjadi karya menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi.”

Gerimis mengundang mengiringi perjalanan saya menuju sebuah tempat yang melahirkan seorang pemuda berprestasi. Bermodal aplikasi peta di smartphone, akhirnya saya sampai di depan gang Subur, jalan Muhammad Toha, Bandung. Sewaktu menyusuri gang dari kejauhan nampak spanduk bergambar sepatu, saya pun meyakini betul kalau rumah ini adalah tempat tinggal si penyulam sepatu unik itu.

Sesampainya di depan rumah, seorang lelaki berkaca-mata menyambut kedatangan saya. Sambil melebarkan pintu, pemuda tersebut mempersilakan saya masuk. “Perkenalkan saya Nurman, mas!” sambut laki-laki tersebut diiringi senyum. Berselang saya duduk, tiba-tiba seorang laki-laki mengendarai motor datang menghampiri dengan membawa sekantong plastik. Nurman pun berbegas menghampiri lantas kemudian menghilang dari hadapan saya.

“Maaf ya mas nunggu, itu tadi ceker ayam untuk produksi hari ini”, ungkap Nurman mengawali obrolan kami pagi itu. Setiap paginya transaksi dari pengepul ceker ayam rutin ia lakukan, guna untuk mempersiapkan proses produksi. Dari pengepul ceker ayam itulah, awal dari proses terbentuknya karya yang sering ia sebut dengan sepatu eksotis.

Media cetak yang pernah memuat artikel tentang sepatu kulit ceker ayam. (Sumber: Dok. Pribadi

Nurman Farieka Ramdhany (24) adalah pemuda penyulam sepatu dari kulit kaki ayam. Namanya belakangan muncul di berbagai media lantaran hasil karya sepatunya yang berbeda dari yang lainnya. Nurman mengkombinasikan sepatu dengan kulit ceker ayam. Alhasil, karyanya viral dan banyak orang yang mulai mengunjungi rumahnya untuk sekedar melihat, penelitian, wawancara ataupun membeli sepatunya.

“Rata-rata mahasiswa mas, datang untuk keperluan tugas kampus, kadang-kadang ada juga wartawan yang datang untuk meliput proses pembuatan sepatu,” ujar Nurman

Sebelum produknya melesat dipasaran seperti saat ini, tentu prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh riset hampir dua tahun untuk memastikan bahwa produknya layak untuk dipasarkan. Tidak hanya tenaga, pikiran, biaya, bahkan waktu bersama keluarga ia rela korbankan untuk mewujudkan produk idealisnya. Semangatnya tentu perlu dicontoh, pantang menyerah sebelum apa yang menjadi keinginannya dapat terwujud dan membuahkan hasil.

Nurman mulai bercerita tentang kisah hidupnya. (Sumber: Dok. Pribadi)

Kisahnya berawal dari tahun 2014. Saat itu Nurman mulai dilema terhadap status pekerjaannya. ”Pendidikan terakhir saya SMA, mas! bisa kerja apa?, sedangakan kebutuhan hidup semakin berat,” ujar Nurman. Nurman juga beranggapan bahwa beban hidupnya sebagai generasi milenial lebih berat jika dibanding generasi sebelumnya. Kegiatannya serba di luar rumah, termasuk makan. Jadi kalaupun untuk menghemat uang dan pulang ke rumah untuk sekedar makan, Nurman belum bisa karena beberapa faktor seperti jarak tempuh yang jauh, macet dan sebagainya. Itulah yang menyebabkan pengeluarannya semakin membengkak.

“Belum lagi kalau sudah kumpul dengan teman-teman mas, bisa-bisa sehari habis dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu untuk kebutuhan hari itu saja,” timpal Nurman.

Alhasil, salah satu jalan yang ia tempuh yaitu dengan berwirausaha. Akhirnya Nurman memutuskan untuk menggeluti dunia usaha dan mulai menjual berbagai aksesoris kulit. Material yang digunakan terbuat dari kulit sapi dengan varian produknya berupa gelang, tas, dompet dan lainnya. Buah memang tidak jatuh dari pohonnya, bidang usahanya pun tidak jauh dari ayahnya, karena saat itu ayahnya juga merupakan karyawan di sebuah industri kulit.

Tak berlangsung lama, dari beberapa brand yang ia buat tiga sampai empat brand gugur karena persaingan pasar yang semakin ketat. Ia terpaksa merubah haluan dan beralih ke bisnis sepatu. Di tahun 2015, ia mulai menggeluti usaha sepatu berbahan kanvas. Untungnya ia tak kesulitan menyesuaikan pasarnya. Alasanya memilih usaha sepatu kanvas, selain pangsa pasarnya sudah banyak, harganya pun relatif lebih terjangkau dan kompetitif.

Koleksi sepatu kanvas milik Nurman. (Sumber: Dok. Pribadi)

Nurman kembali mengepakkan sayapnya di dunia sepatu. Namun, lagi-lagi usahanya sedikit terhambat dengan market yang mulai tidak sehat. Banyak pengusaha sepatu yang mulai bersaing dengan harga. Bak cuci gudang, sepatu yang setara dengannya, dibandrol dengan harga murah. Meskipun demikian, Nurman tetap bersikukuh untuk tetap mempertahankan kualitas sepatunya.

Lagi-lagi Nurman harus memutar otak untuk tetap bertahan ditengah gerusan pasar yang semakin sengit. Dari keresahannya memikirkan usahanya, terlintas jurnal milik sang ayah yang hampir belasan tahun jarang tersentuh. Nurman kemudian mulai membaca jurnal sang ayah, bagai memperoleh ilham munculah ide gagasan untuk sepatunya.

Ayahnya adalah seorang pekerja yang keseharaiannya tidak terlepas dari produk berbahan kulit. Bersama teman-temannya, sang Ayah melakukan penelitian terhadap kulit dari berbagai sumber hewan, mulai dari kulit ikan-ikanan, kulit katak, hingga kulit kaki ayam. Penelitian pun terhenti karena ayahnya sudah tidak bekerja lagi, meskipun demikian jurnalnya masih tersimpan hingga sekarang.

Sebelumnya di tahun 2014 jurnal sang Ayah memang sempat ia baca, tetapi hanya sebatas tahu bak angin lalu. Nah di tahun 2015, dimana Nurman diharuskan untuk berinovasi terhadap produknya, jurnal ayahnya kembali ia baca. Dari sekian banyak riset yang dilakukan sang Ayah, Nurman tertarik untuk mengembangkan riset dari kulit kaki ayam. Ia berharap ini bisa menjadi inovasi dari produk sepatunya sebelum usahanya benar-benar tergerus pasar.

Potret kulit ceker ayam yang sudah melalui berbagai proses. (Sumber: Dok. Pribadi)

Pemuda kelahiran Bandung ini akhirnya mulai melakukan risetnya terhadap kulit kaki ayam. Butuh waktu dua tahun lamanya untuk melakukan riset kulit kaki ayam. Banyak hambatan yang ia temui salah satunya yaitu bahan-bahan kimia yang sudah tidak bisa dibeli karena hilang di pasaran. Sekalinya ada yang menjual, dibutuhkan persyarat tertentu untuk membeli bahan tersebut. Inilah yang membuat risetnya memakan waktu sangat lama.

Biaya yang dibutuhkan untuk risetnya bertahun-tahun terbilang sangat besar, ia menyisihkan sebagaian keuntungan dari hasil jualan sepatu kanvasnya untuk riset tersebut. Dia benar-benar harus memutar otak agar risetnya terus berjalan meskipun keuangan menjadi faktor penting keberlangsungan risetnya. Untungnya keberadaan sang Ibu, selalu mendukung apa yang Nurman butuhkan.

Dibalik kegigihannya melakukan riset terhadap kulit kaki ayam, ternyata tersimpan sebuah misi yang membuat saya kagum. Bagaimana pun caranya, dia bersikeras agar kulit kaki ayam, bisa menggantikan kulit dari reptil atau satwa langka yang selama ini banyak diburu untuk produk-produk berbahan kulit.

“Selama ini kan orang tahunya produk kulit itu yang bagus dari kulit buaya ataupun kulit ular. Coba mas bayangkan kalau hewan tersebut diburu terus menerus, pastinya populasi mereka akan punah dong,” ungkap Nurman dengan nada sedikit kesal.

Nurman juga menjelaskan alasan lainnya kenapa dia lebih memilih kulit ceker ayam ketimbang kulit dari binatang lainnya. Selain mudah didapat, ceker ayam juga merupakan limbah dari rumah makan yang hampir setiap menunya berupa daging ayamnya saja. Sedangkan ceker ayamnya lantas dibuang menjadi sampah jika tidak ada yang mengolahnya. Inilah yang menjadi alasan Nurman untuk mengambil peluang dari limbah ceker ayam tersebut.

“Kita kan sama-sama tahu mas, rumah makan di Indonesia rata-rata menunya ayam semua. Sedangkan yang dibutuhkan cuma daging ayamnya saja, ceker ayamnya dibuang alias menjadi limbah. Inilah peluang saya untuk memanfaatkan limbah ceker ayam menjadi inovasi dari sepatu-sepatu saya,” jelas Nurman.

Bahan kulit ayam dan Hasil sepatu kulit yang terbuat dari Kulit Ceker Ayam (Sumber: Dok. Pribadi)

Obrolan kami menjadi semakin menarik, tatkala Nurman membuat saya penasaran dengan sepatu kulit ceker ayam yang sejak tadi kami bicarakan. Nurman pun bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil contoh bahan dan hasil karya yang sudah jadi berupa sepatu kulit ceker ayam. Sembari menunggu saya pun menyeruput secangkir teh yang disediakan sejak awal kedatangan saya.

“Ini lho mas bahan kulit ceker ayam yang sudah melalui beberapa proses pembuatan,” ujar Nurman sambil menyodorkan semacam potongan kulit ceker ayam yang siap untuk diproduksi. Dengan rasa penasaran, saya mencoba meraba dan mengamati dengan betul tekstur yang ada pada kulit kaki ayam tersebut. Segudang pertanyaan pun muncul dari benak saya. Sambil mengabadikan hasil karyanya saya pun melontarkan pertanyaan seputar proses pembuatannya.

Ada beberapa langkah sebelum akhirnya menjadi sepatu kulit ceker ayam. Tahapan ini dilakukan agar kulit ceker ayam tidak mudah rusak ataupun robek. Proses yang memakan waktu lama tentunya menjadi perihal kenapa harga sepasang sepatunya sedikit lebih mahal. Prosesnya diawali dari pembelian ceker ayam, “Untuk saat ini, kita masih beli ceker ayam, entah dari tukang sayur yang lewat di depan rumah atau dari pengepul langsung di pasar,” ujar Nurman.

Dalam satu hari, Nurman bisa menghabiskan 20kg ceker ayam dengan membelinya seharga Rp. 25.000,- sampai dengan Rp. 30.000. Dari 20kg ceker ayam tersebut kemudian diambil kulitnya saja beratnya pun menyusut menjadi 3kg. Kulit ceker ayam tersebut kemudian dicuci dan direndam dengan ramuan miliknya agar menghasilkan kualitas kulit yang baik. Kemudian barulah dikeringkan dengan cara dijemur. Kulit-kulit yang sudah mengering kemudian di tes uji ketahanan melalui berbagai proses tahapan. Hingga akhirnya dinyatakan baik dan siap untuk diproduksi lebih lanjut.

Area produksi mesin jahit, mesin press dan  juga tempat beribadah (Sumber: Dok. Pribadi)

Saking penasaran dengan proses pembuatannya, akhirnya saya diajak Nurman mengunjung area produksinya. Lokasinya berada dilantai atas rumahnya, saya pun bergegas menaiki tangga untuk melihat area kerjanya. Tepat di depan saya terdapat mesin jahit dan alat pres untuk pembuatan sepatu. Ada juga area untuk beribadah di salah satu sudut sisinya. Area inilah yag digunakan untuk menyulam kulit ayam menjadi selembar kain.

Setiap harinya kulit-kulit yang sudah menjadi kain tersebut hanya bisa menghasilkan satu bagian sepatu. Design teksturnya pun tidak sama, karena ragam kulit ceker ayam yang berbeda-beda. Jadi untuk menghasilkan 100% kesamaan desain dari sepatu kulit tersebut mustahil untuk disamakan. Namun hal ini menjadi nilai jualnya, karena setiap desain masing-masing sepatu berbeda-beda, bisa dikatakan satu desain hanya untuk satu orang (one design one person).

Harga sepatu kulit ini dibandrol dengan harga Rp.400.000,- sampai Rp. 700.000,- untuk model casual dan Rp. 1000.000,- sampai Rp. 1.500.000,- untuk model formal. Memang jika dibandingkan dengan brand yang sudah terkenal harga ini terbilang cukup mahal. Namun jika kita melihat dari proses pembuatannya tentu sangat sesuai karena nilai dari sepatu ini yang berbeda dari brand yang sudah terkenal. Terlebih ketika Nurman menjelaskan, akan ada perubahan warna yang tadinya doff menjadi glossy atau berkilau. Hal ini tentunya bisa menjadi cerita bagi pemilik sepatu tersebut.

Pak Ahmad Jaenudin yang sedang memola kulit untuk dijadikan cover sepatu (Sumber: Dok. Pribadi)

Saya pun beranjak ke lantai ke tiga, luasnya setengah dari lantai ke dua. Terdapat dua mesin jahit dan berbagai peralatan untuk menyambungkan antara atap sepatu dengan alasnya. Disana saya berkenalan dengan Pak Ahmad Jenudin (60) salah satu tim pembuat sepatu. Pak Ahmad Jaenudin atau yang akrab dipanggil Pak Jaja ini bertugas mulai dari membentuk pola, melapisi kulit ayam dengan kanvas hingga menjahit sepatunya. Perannya tentu sangat penting dalam usaha yang sedang dikembangkan Nurman. Inilah yang diharapkan Nurman, bisa memberdayakan pengrajin sepatu dan memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat disekitarnya.

Dari area workshop sepatu, saya pun beranjak mengelilingi galeri miliknya. Beragam desain sepatu terpajang rapi di etalase miliknya. Ada yang bermodel formal ada juga yang casual. Tidak hanya dikhususkan untuk laki-laki saja, sepatu wanita dengan model unik dan elegan juga nampak tersusun rapi di atas lemari kayu. Siapa sangka, beragam sepatu yang memiliki dua varian warna hitam dan coklat itu, nyatanya terbuat dari kulit ceker ayam.

Galeri sepatu kulit ceker ayam (Sumber: Dok. Pribadi)

Sepatu kulit ceker ayam yang dikenal dengan brand Hirka ini, ternyata telah menyebar ke seluruh plosok nusantara mulai dari Aceh, Kalimantan, Jakarta, Jawa, hingga Sumatra. Hirka sendiri diambil dari bahasa turki yang berarti “dicintai”. Nurman berharap suatu saat karyanya akan lebih dicintai dan diterima oleh masyarakat luas.

Selain itu, sepatunya juga sudah memiliki beberapa pelanggan dari luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Brasil, dan Prancis. Dia tidak menyangka bahwa sepatunya akan diterima disetiap kalangan dari berbagai daerah maupun mancanegara. Jeripayah yang selama ini ia lakukan akhirnya terbayar dengan senyum pelanggannya yang sangat mengapresiasi hasil karyanya.

“Waktu itu ada turis yang datang mas! saking mengapresiasi sepatu saya, dia ingin memakai sepatu langsung dari rumah saya. Ini bentuk apresiasi yang luar biasa bagi saya mas. Seketika jeripayah saya selama ini, terbayarkan dengan apresiasi dari pelanggan saya,” ujar Nurman.

Sepatu Kulit Ceker Ayam saat pameran di Turki (Sumber: Dok. Pribadi)

Hasil karyanya juga telah dipasarkan melalui berbagai pameran di luar negeri. Tentunya ini menjadi produk sepatu kulit ceker ayam pertama di Indonesia atau bahkan dunia. Sepanjang ceritanya, saya begitu bangga dengan sosok Nurman. Sejak awal saya begitu kagum, seolah tersulut api semangat dari rentetan prestasinya. Sosok Nurman tentu patut menjadi teladan bagi pemuda Indonesia yang berhasil membanggakan negeri melalui hasil karya dan inovasinya.

Di sudut galerinya saya menemukan satu etalase yang di dalamnya tersimpan banyak apresiasi dalam bentuk penghargaan. Kebanggaan saya pun semakin bertambah, lantaran penghargaan yang ia dapatkan bukan sebatas penghargaan biasa, namun juga inspirasinya sebagai pemuda penerus bangsa. Nurman sebelumnya pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat dan di tahun 2019, Nurman berhasil mendapatkan apresiasi dari Satu Indonesia Award. Dimana ajang Astra inilah yang paling bergengsi dan meninggalkan jejak kesan mendalam dihati Nurman.

Nurma penerima Apresiasi SATU Indonesia Award 2019 (Sumber: Dok. Pribadi)

Menjadi bagian dari Astra, Nurman seperti mendapatkan semangat baru untuk mengembangkan usahanya. “Langkah selanjutnya mungkin saya akan fokus untuk branding produk, mulai dari brand image, brand awareness, knowledge product dan lain sebagainya” ungkap Nurman. Terkait produk, ia juga akan meningkatkan kapasitas produksinya, yang semula hanya 20kg ceker ayam meningkat menjadi 40kg dan seterusnya. Nurman juga akan memeberikan edukasi terkait produknya terkait ketahanan dari kulit ayam, kekuatan, tekstur, warna dan lain sebagainya kepada lapisan masyarakat melalui media yang ada.

Nurman sangat terbuka terhadap setiap orang yang datang untuk berbagai pengetahuan terkait usahanya. Baginya dengan berbagi pengetahuan, itu akan menjadi pemasaran secara tidak langsung bagi produknya. Dengan begitu produknya semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat luas.

Sekarang, Nurman telah menjadi inspirasi banyak orang. Sesuai misinya yaitu agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan dan satwa yang seharusnya dilestarikan. Keberhasilannya mengubah limbah menjadi karya yang memiliki nilai jual telah menjadi bukti bahwa sampah pun bisa dimanfaatkan kembali (reduce, reuse, recyle). Kampanye terhadap peduli satwa, tentunya dapat memberikan dampak positif terhadap pengrajin sepatu agar penggunaan kulit reptil atau satwa lainnya dapat diminimalisir. Dengan begitu kita dapat melestarikan satwa langka yang ada di Indonesia.

Kepedulian Nurman terhadap lingkungan dan peduli satwa tentunya sejalan dengan pilar Astra dalam bidang lingkungan. Inspirasi Nurman dalam inovasinya membuat sepatu dari kulit ceker ayam juga selaras dengan pilar Astra dalam bidang kewirausahaan. Sejatinya ini membuktikan bahwa Nurman layak menerima apresiasi dari SATU Indonesia Award 2019 dibidang kewirausahaan.

Kiprah PT Astra International Tbk yang memiliki komitmen pada kemajuan kewirausahan bangsa, secara nyata telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat untuk memajukan perekonomian kerakyatan. Semoga ini dapat menjadi pematik semangat bagi seluruh anak muda hingga ke plosok Indonesia agar terus berinovasi dan kreatif dalam memanfaatkan segala peluang yang ada.

Terima kasih Nurman yang telah menginspirasi pemuda Indonesia, terima kasih Astra yang telah mendukung pemuda seperti Nurman untuk menjadi Ikon Kebanggaan Indonesia. Saatnya #IndonesiaBicaraBaik saatnya #KitaSATUIndonesia.

– Tulisan ini diikutsekertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2019