Notice: WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/cre4ble/public_html/wp-includes/functions.php on line 5663
Sebingkai Kisah Ramadhan dari Mukena Lusuh dan Sendal Jepit - Adhi Hermawan

Sebingkai Kisah Ramadhan dari Mukena Lusuh dan Sendal Jepit

Tatapan matanya kosong, mengarah pada jendela yang terhembus percikan air hujan.

Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas ini bukan tentang perjodohan. Hingga adzan pun berkumandang, tetap tidak ia hiraukan. 

“Woy Buka, udah adzan”

teriak khalid diiringi hentakan meja yang memudarkan lamunannya.

(Ternyata Aku yang melamun…)

Ramadhan tahun ini tentu sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Ada sedikit kebebasan, namun ada pula sedikit kekhawatiran. Surat yang dilayangkan beberapa bulan lalu, membuat saya sedikit menelan kepahitan. Lagi-lagi saya harus menerima keputusan untuk berhenti bekerja, surat pemutusan hubungan kerja tersebut menandakan bahwa kontrak kerja sebagai admin di perusahaan tersebut tidak lagi dilanjutkan.

Namun, sejatinya ada sedikit kebebasan yang saya rasakan. Saya bisa melakukan berbagai macam kegiatan apa saja dan kapan pun tanpa terikat waktu bekerja. Misalnya, pada bulan ramadhan kali ini saya bisa menunaikan ibadah puasa dengan tenang, bisa mengikuti kajian ramadhan dimana saja, dan melakukan hal positif lainnya dengan bebas.

Yah, meskipun buka puasa tidak lagi dengan teman sekantor, parcel lebaran tidak lagi dikirim ke rumah, bonus THR tidak lagi di dapat, baju lebaran yang harus beli sendiri dan uang pesangon yang semakin menipis. Meski tak harus dikhawatirkan, tetap saja permasalahan ini terus membekas.

Jadi teringat pesan Ibu saya :

“Bondo sethithik yo tetep disyukuri, nek sampean arep luwih yo kudu iso berbagi”

Artinya: harta yang sedikit ya harus tetap disyukuri, kalau kamu menginginkan sesuatu yang lebih ya harus bisa berbagi. Kata-kata itu tentu syarat makna dengan kalam ilahi “Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. (QS: Ibrahim:7)”. 

Jadi, selagi kita masih diberikan nikmat sehat jasmani dan rohani tetaplah bersyukur dan senantiasa berbagi selagi kita mampu untuk berbagi kebaikan. Dengan berbagi tentu kita tidak akan merasa kekurangan, justru akan senantiasa ditambah kenikmatan oleh Sang Pencipta, apalagi di bulan yang penuh dengan keberkahan ini.

 

Ramadhan Sarana Untuk Berbagi

Teringat pesan tentang berbagi, entah apa yang mendorong saya untuk mengunjungi salah satu yayasan yang membina anak-anak yatim dan dhuafa di bilangan Jakarta Timur, dekat tempat saya dulu bekerja.

Bermodal satu box kurma, saya berikan sebagai tambahan untuk menu berbuka puasa. Berkesempatan berbuka bersama mereka dan melihat canda-tawanya, saya begitu sumringah. Bahagia sekali rasanya bisa berbagi walau dengan hal yang tak seberapa.

Hal inilah yang membuat saya tersadar, bahwa berbagi tak harus dengan harta, tetapi dengan sesuatu yang sederhana saja bisa kita lakukan untuk membuat orang lain bahagia. Begitu juga dengan orang tercinta disekitar kita, termasuk ibu dan ayah kita.

 

 

Mukena Lusuh Sang Ibu

Ramadhan memang sarana yang pas untuk berbagi, terlebih lagi untuk orang yang kita cintai. Ada yang menjadi perhatian penting saat hari pertama ramadhan yang selalu dihiasi dengan maaf-maafan dalam tradisi keluarga kami.

Sebagai anak rantau yang tinggal jauh dari kampung halaman tentu komunikasi kami pun terpisahkan oleh jarak. Namun, tetap bisa dilakukan melalui telepon ataupun video call. Meski pesan di grup chating sudah banyak yang mulai mengucapkan permohonan maap menjelaang ramadhan, tetap saja video call menjadi alternatif penting yang saya lakukan untuk melihat langsung keadaan orang tua kami.

Tampak raut wajahnya yang mulai menipis menghiasi ponsel yang sedang saya genggam, rindu rasanya ingin memeluknya dari kejauhan. 

“Assalamualaikum, Apa kabar bu?” begitulah sapaan yang sering terucap sambil memperhatikan suasana lingkungan sekitar di layar berukuran 6 inci ini. Namun, entah kenapa pandangan ini tidak lepas dari mukena yang sedang diapitnya disela-sela tangannya.

Mukena itu adalah mukena yang tiga tahun lalu pernah saya berikan kepada Ibu saya. Warnanya yang hampir memudar, bentuknya yang lusuh dan terdapat robekan dibagian bawahnya. Membuat saya berfikir, betapa lupanya diri ini yang kurang memperhatikan kondisi seorang Ibu.

Mungkin ini adalah hal yang sepele, namun alangkah indahnya jika kita sebagai anak dapat melengkapi kebutuhan orang tua kita dengan sesuatu yang layak. Memang sangat jarang sekali, saya memperhatikan keadaan Ibu karena memang jarak yang membuat kita hanya bertemu dua kali dalam satu tahun.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, saya pun tahu apa yang harus saya lakukan untuk berbagi dengan orang tercinta. InsyaAllah mukena lusuh itu akan berubah menjadi mukena yang layak, mukena yang membuat ibu nyaman dalam beribadah. 

Sendal Jepit Sang Ayah

Layar pun beralih pandangan ke adik saya. Wajahnya yang dipenuhi dengan tugas perkuliahannya mulai meluapkan segala permasalahan yang ada. Memang kebiasanya adalah menceritakan apa yang saya tidak ketahui tentang keadaan rumah, mulai masalah genteng bocor hingga menu berbuka puasa. 

Namun ada juga yang menjadi perhatian saya, yaitu ketika dia bilang “Mas, ulang tahun bapak nanti, kita kadoin sendal selop yuk!” begitulah ajakannya untuk memberikan hadiah sendal untuk sang ayah. Tentu ini tidak lepas dari sendal jepit yang selalu setiap hari ayah saya gunakan, tubuhnya yang sudah renta terkadang sulit menggunakan sendal jepit.

Hal ini tentu menjadi renuangan bagi saya, karena hal sekecil ini luput dari perhatian saya. Lagi-lagi ramadhan kali ini harus menjadi ramadhan yang istimewa bagi saya dengan terus berbagi dengan orang-orang terdekat yang kita cintai. 

Bahagiakanlah mereka ibu dan ayah kita selagi mereka masih ada untuk kita. Buatlah mereka senang dan bahagia memiliki kita yang senantiasa perhatian terhadap mereka. Berbagi di bulan ramadhan tentu akan menjadi nikmat terbesar untuk bahagia bersama mereka.

 

Berbagi Ramadhan dengan Shopee

Saatnya wujudkan berbagi dengan orang terdekat kita dengan promo THRBIGRAMADHANSALE bersama SHOPEE

Harapan untuk membahagiakan kedua orang tua seharusnya bisa dilakukan dengan mudah. Meskipun THR dari kantor tak lagi di dapat, tetapi tenang saja! masih ada THRBIGRAMADHANSALE dari Shopee yang siap untuk wujudkan itu semua.

Tanpa ragu saya pun langsung mempersiapkan diri untuk bisa berbagi dengan orang terdekat saya dengan THRBIGRAMADHANSALE yang akan sudah dimulai sejak tanggal 22 April 2019 dan berakhir pada tanggal 25 Juni 2019 .

Berbagi kini bisa dilakukan dengan memanfaatkan promo dengan satu genggaman dan kemudahan transaksi. Terlebih lagi banyak promo yang diberikan Shopee dibulan yang penuh keberkahan ini.

Mukena lusuh dan sendal jepit kini tak lagi perlu dihiraukan karena sudah ada Shopee yang siap untuk membantu kita mewujudkan itu semua.

THRBIGRAMADHANSALE memudahkan kita untuk berbagi, saatnya berbagi dengan orang tercinta kita dengan promosi dan diskon besar-besaran dari THRBIGRAMADHANSALE dari Shopee.

 

Ingatkan Saya! THRBIGRAMADHANSALE

Ayo jangan lupa untuk berburu cashback dan promo Ramadhan dari Shopee!!!

#THRBIGRAMADHANSALE bersama SHOPEE